Diseminasi Hasil Litbang Saintifikasi Jamu dan Sosialisasi Percepatan Fitofarmaka

  • 06/Sep/2019
  • Admin
  • Highlights
  • 108

Diseminasi Hasil Litbang Saintifikasi Jamu dan Sosialisasi Percepatan Fitofarmaka

Bertempat di Kota Semarang, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) menyelenggarakan Diseminasi Hasil Litbang Saintifikasi Jamu dan Sosialisasi Percepatan Fitofarmaka pada 29-30 Agustus 2019. Hadir dalam kegiatan ini kurang lebih 160 undangan yang berasal dari Badan Litbangkes, BPOM, Dinas Kesehatan dari 35 kabupaten/kota Jawa Tengah, Kelompok PKK serta Industri Jamu dan Obat Tradisional.

Sebagaimana diketahui, Pemerintah pusat melalui Kementerian Kesehatan terus mendorong saintifikasi jamu agar bisa memenuhi persyaratan uji klinis di lembaga yang berwenang sebagai upaya melestarikan berbagai jenis jamu di masyarakat. Saat ini telah dihasilkan 12 Ramuan Jamu Saintifik telah terbukti secara klinis aman dan berkhasiat yaitu ramuan asam urat, ramuan tekanan darah tinggi, ramuan wasir, ramuan radang sendi, ramuan kolesterol tinggi, ramuan gangguan fungsi hati, ramuan gangguan lambung/maag, ramuan batu saluran kencing, ramuan diabetes melitus, ramuan obesitas, ramuan kebugaran dan ramuan pelancar ASI.

Dalam sambutannya, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI, dr. Siswanto, MPH., DTM menjelaskan bahwa saintifikasi jamu sangat penting untuk memenuhi persyaratan uji klinis di lembaga yang berwenang sebagai upaya melestarikan berbagai jenis jamu di masyarakat. Lebih lanjut Kabadan menjelaskan bahwa tahapan dalam saintifikasi jamu saat ini belum memenuhi syarat-syarat di Badan POM sehingga kalangan industri perlu diundang supaya hal ini dikawal dengan betul-betul supaya bisa diproduksi secara komersial.

Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) Akhmad Saikhu, M.Sc.PH mengatakan bahwa tujuan kegiatan selama dua hari ini untuk menyebarluaskan hasil penelitian saintifikasi jamu serta menyampaikan progres percepatan pengembangan fitofarmaka.
Penyebarluasan hasil litbang saintifikasi jamu ditujukan kepada kalangan akademisi, industri, dan pemerintah. Diharapkan, sinergi institusi riset, industri dan dinas kesehatan serta PKK dari 35 kabupaten/kota di Jateng ini akan mampu mendukung pembangunan kesehatan melalui pemanfaatan tanaman obat dan jamu.

Dinkes Provinsi Jawa Tengah memberi apresiasi kepada B2P2TOOT yang menyelenggarakan kegiatan diseminasi ini. Rahma Nurhayati SKM, M.Kes dari Dinkes Provinsi Jawa Tengah bersyukur karena lokasi B2P2TOOT ada di Jawa Tengah dan hasil penelitian jamunya sangat bermanfaat untuk masyarakat. Jawa Tengah lanjut Rahma memiliki potensi besar untuk saintifikasi jamu, antara lain yang pertama Jawa Tengah memiliki sumber tanaman obat yang cukup besar yang bisa dikembangkan. Kedua memiliki perguruan tinggi farmasi dan kedokteran yang sangat banyak baik negeri maupun swasta yang didalamnya memiliki prodi Jamu. Ketiga memiliki industri obat tradisional yang sangat banyak.

Kegiatan Diseminasi ini juga disertai dengan pameran hasil penelitian yang menampilkan terbitan, sediaan tablet, kapsul jamu saintifik hasil penelitian formulasi, sampel produk olahan tanaman obat berupa lulur, jamu instan dan permen. Selanjutnya pada 30 Agustus 2019, dilaksanakan paparan hasil riset dan temu bisnis yang terbagi dalam kelas jamu untuk industri dan kelas jamu untuk masyarakat dengan menampilkan narasumber peneliti B2P2TOOT:

  • dr. Danang Ardiyanto: Peluang Hilirisasi Jamu Saintifik.
  • Sofa Farida, S.Farm., Apt.: Formulasi Sedian Jamu Ramuan Saintifikasi Jamu.
  • Fanie I. Mustofa, MPH: Pemberdayaan Masyarakat.
  • dr. Zuraida Zulkarnain: Jamu Saintifikasi Untuk Masyarakat.