Advokasi Naskah Rekomendasi Hasil RISTOJA

  • 01/Nov/2018
  • Admin
  • Berita
  • 199519

Bangsa Indonesia yang terdiri dari beragam etnis dikaruniai oleh Tuhan kekayaan hayati yang melimpah dengan diversitas salah satu yang tertinggi di dunia. Kekayaan hayati yang dimiliki ini salah satunya adalah kekayaan akan pengetahuan etnomedisin.

RISTOJA (Riset Tumbuhan Obat dan Jamu) hadir untuk mengungkap data yang sebenarnya  jumlah tumbuhan obat dan ragam pengetahuan etnomedisin di etnis-etnis yang ada di Indonesia.  Kegiatan ini dilakukan secara purposive sampling dengan entry point informasi adalah penyehat tradisional (dikenal juga sebagai hattra). RISTOJA yang dilakukan secara bertahap pada tahun 2012, 2015 dan 2017 tersebut menghasilkan ; 32.014 informasi ramuan, 47.466 informasi tumbuhan obat, 2.848 spesies tumbuhan obat dan 27.743 nomor koleksi.

Pada tahun 2018, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional memformulasikan hasil RISTOJA dengan menyusun tiga Rekomendasi Kebijakan yaitu: 1) Menyelamatkan Pengetahuan Lokal dengan Pencatatan Ramuan Obat Tradisional; 2) Penguatan Eliminasi Malaria di Papua dan Papua Barat dengan Tanaman Obat; dan 3) Pemprov Sulteng Harus Segera Melakukan Konservasi Tumbuhan Obat Langka.

Pada 30 Oktober 2018, Tim Peneliti yang dipimpin oleh Kepala B2P2TOOT didampingi oleh Kepala Puslitbang Sumber Daya dan Pelayanan Kesehatan, melakukan advokasi kepada Direktur Pelayanan Kesehatan Tradisional, Kementerian Kesehatan RI; dr. Ina Rosalina Dadan Sp.A(K). M.Kes. M.H.Kes. dan jajarannya.

Slamet Wahyono menyampaikan topik advokasi “Menyelamatkan Pengetahuan Lokal dengan Pencatatan Ramuan Obat Tradisional”. Harapannya Direktorat Yankestrad dapat melakukan pencatatan ramuan melalui optimalisasi peran SP3T (Sentra Pengembangan dan Penerapan Pengobatan Tradisional). Hal ini dilakukan untuk menghindari hilangya pengetahuan ramuan pada generasi berikutnya. Di sesi selanjutnya, Sari Haryanti menyampaikan topik advokasi dengan judul “Penguatan Eliminasi Malaria di Papua dan Papua Barat dengan Tanaman Obat”  yang berisi pembatasan dalam penggunaan tanaman obat (hanya dalam keadaan darurat) dan perlu dikembangkannya tanaman obat dalam bentuk repelen, tidak dalam bentuk minum. Terakhir, Yuli Widyastuti menyampaikan perlunya dilakukan “Konservasi Tanaman Obat Langka di Propinsi Sulawesi Tengah”. Hasil Ristoja mengungkap bahwa sebagian besar tumbuhan obat di Sulawesi Tengah yang digunakan hattra mengalami pengikisan (kelangkaan). Bahkan beberapa dari tumbuhan obat tersebut sudah dikategorikan sebagai spesies yang terancam punah oleh Badan Konservasi Dunia (IUCN) International Union for Conservation of Nature and Natural Resources.

Direktur Yankestrad Ina Rosalina, memberikan apresiasi kepada Badan Litbangkes, khususnya B2P2TOOT Tawangmangu yang telah mengadvokasikan hasil penelitiannya kepada Direktorat Yankestrad. “Hasil penelitian Badan Litbangkes seperti ini sangat diharapkan oleh Yankestrad. Kita perlu banyak berdiskusi untuk mensosialisasikan hasil Litbangkes kepada masyarakat”, ujarnya.

Advokasi kebijakan  tersebut menjadi salah satu kiprah B2P2TOOT dalam menyampaikan hasil riset kepada pemangku kepentingan. Mari kuatkan kolaborasi dengan semua pihak untuk terus mengeksplorasi dan memanfaatkan tumbuhan obat Indonesia dengan bijak demi kelestarian budaya dan keanekaragaman hayati Bangsa Indonesia.